Posted on: 18/08/2021 Posted by: spotlessowlea5bbd4a Comments: 0

Cerita Tentang Makanan yang Disantap Orang-orang Romawi Kuno – Saat itu matahari menyingsing di Roma, di luar tembok kota. Cahayanya yang keemasan lewat tumbuhan pinus serta terpancar ke beberan batu basal lembut yang mengubah jalannya sejarah.

Cerita Tentang Makanan yang Disantap Orang-orang Romawi Kuno

 Baca Juga : Berbagi Semangat Untuk Masakan Italia Selatan

italianfoodnet – Ini merupakan Appian Way, jalur awal yang dibentuk di Kota Roma. Lebih dari 2. 000 tahun yang kemudian angkatan Romawi pergi meninggalkan kota ini buat menaklukkan negeri- negeri yang jauh. Mereka sering kembali bawa kemenangan.

Jalur ini merupakan pusat Halaman Arkeologi Appia Antica Roma, sepetak area hijau besar yang menghampar dari pinggiran jantung sejarah kota sampai desa- desa di lereng busut Castelli Romani.

Oasis seluas 4. 700 hektar ini merupakan halaman kota terbanyak kedua di Eropa. Halaman ini dihiasi saluran air, cagar alam, web arkeologi, ladang anggur, padang rumput, serta paviliun yang dipunyai beberapa wujud populer semacam pendesain Valentino serta aktris Gina Lollobrigida.

Dekat 3 km dari kemeriahan Colosseum, halaman ini jadi tempat bersantai para wisatawan. Mereka bisa menikmati pedesaan Romawi dengan bebas, mengikuti celoteh burung serta mengangon yang mengetuai sekumpulan mereka.

Hamburan reruntuhan menaikkan ingatan yang sempat menarik angan- angan para ilustrator serta penyair Grand Tour.

Ini sedemikian itu terasa kala Kamu merasakan bundaran kehidupan yang berdiri di jalur berumur ini. Angin berhembus sepoi- sepoi bawa aroma rumput fresh, batu- batu ambruk yang bawa narasi dari era kemudian.

Sebab ini merupakan Italia, santapan lezat wajib memenuhi panorama alam yang bagus. Masuklah ke restoran Hostaria Antica Roma di Appian Way kepunyaan Paolo Magnanimi.

Restoran ini terletak di dekat Mausoleum of Cecilia Metella yang ikonik di halaman itu. Restoran mulanya dikelilingi halaman bunga serta sayur- mayur yang dipelihara oleh papa Magnanimi, Massimo.

Catatan menu mereka muat santapan yang tidak bisa ditemui di restoran lain di kota ataupun bisa jadi di bagian bumi yang lain.

Orang di balik buatan kuliner ini merupakan Magnanimi. Ia ialah ahli masak yang bergairah menyuguhkan santapan yang bersumber kokoh dari asal usul era Romawi kuno di Halaman Arkeologi Appia Antica.

Untuk mayoritas orang, santapan Romawi kuno tidak terdengar menarik. Yang awal kali terlalui dalam benak merupakan segmen abnormal semacam hajatan Trimalchio dalam narasi Satyricon era ke- 1 Kristen, di mana tuan rumah banyak terkini melangsungkan acara elegan dengan menghidangkan santapan enak semacam biji kemaluan banteng, ambing babi, serta kelinci yang dihiasi dengan kapak menyamai Pegasus.

Tetapi Magnanimi kembali menyuguhkan macam santapan itu cocok asal usulnya. Ia menghasilkan kembali persembahan enak yang lazim dikonsumsi orang Romawi, bukan persembahan eksentrik yang diadakan buat luar biasa golongan atas.

Selaku chef serta ahli sejarah yang menghabiskan lebih dari 25 tahun menekuni formula kuno, Magnanimi mengatakan banyak orang Romawi selaku penggemar alam serta pelacak kebahagiaan sensual.

Mereka, tutur Magnanimi, amat menghormati santapan lezat, walaupun kegandrungan itu disebutnya tidak cocok dengan karakteristik serta nilai- nilai Romawi.

Biji- bijian, kacang- kacangan, sayur- mayur, telur, serta keju merupakan santapan dasar mereka. Buah serta madu memenuhi macam panganan itu selaku donatur rasa manis.

Daging( mayoritas babi) serta ikan dikonsumsi dalam jumlah kecil. Kala imperium bertumbuh pada era ke- 3 saat sebelum Kristen, orang Romawi menyongsong rasa terkini, ialah merica dari India serta lemon dari Persia.

Garum( mendekati dengan saus ikan Asia) dipakai buat meningkatkan rasa umami pada olahan Romawi. Seluruh santapan ini mereka nikmati dengan anggur madu dikala makan malam yang diucap convivium. Sebutan ini mempunyai arti pertemuan buat memperingati kehidupan serta masa yang bawa cuaca serta gradasi berlainan.

Magnanimi, yang saat ini berumur 54 tahun, menciptakan antusias keramaian mulanya dengan metode menceritakan pada para pengunjung ataupun mengaduk suatu yang enak di dapurnya.

Ia tersimpul dikala menceritakan pada aku, gimana selaku pria belia ia luang kesusahan memastikan bapaknya kalau para klien hendak menggemari olahan kuno yang ia hidupkan kembali.

” Aku mulai bertugas di restoran Hostaria kala aku berumur 14 tahun kemudian istirahat buat menikmati roman buatan Jack Kerouac sepanjang bertahun- tahun di Amerika Sindikat,” tuturnya.

” Kala aku kembali, aku mempunyai ujung penglihatan terkini buat menghormati asal usul besar Romawi serta aku amat mau berlatih lebih banyak tentangnya,” ucap Magnanimi.

Gagasan Magnanimi berkembang kala seseorang sahabat memberinya novel bertajuk Dinner with Lucullo. Novel ini penuh dengan narasi serta formula dari era Romawi kuno.

Kepribadian dalam novel ini merupakan seseorang angkatan pria era ke- 1 SM yang sedemikian itu populer dengan hajatan makannya. Dikala ini, bila masyarakat Kota Roma menyanjung makan malam yang enak, mereka hendak mengatakan,” Santapan ini seenak olahan Lucullo.”

Magnanimi mulai mencoba formula serta mencapai keberhasilan pertamanya dengan pullum oxizomum, persembahan ayam.

Persembahan ini ini terbuat dengan daun bawang serta santapan ajudan khas Tepi laut Amalfi yang dibuat dari ikan teri yang difermentasi. Diketahui dengan gelar colatura di alici di Cetara, santapan ajudan ini ialah pengganti sempurna buat garum.

Sebagian wisatawan dari Jepang amat menikmati persembahan ini. Ini hingga membuat Magnanimi jadi wujud yang diabadikan dalam film dokumenter di Jepang.

” Masyarakat Roma tiba sehabis itu film itu terhambur. Mereka lebih susah diyakinkan buat berupaya suatu yang terkini,” tutur Magnanimi.

” Serta setelah itu pollo oxizomum dipuji di surat kabar The New York Times. Itu sedang salah satu persembahan sangat terkenal kita.”

Menu restoran Hostaria saat ini menawarkan standar kuliner Roma, semacam pasta amatriciana serta carbonara. Terdapat pula persembahan Romawi kuno yang membuat Magnanimi menarik atensi global serta membuat bapaknya yang dahulu skeptis besar hati.

Aku awal kali berjumpa Magnanimi pada tahun 2008 kala aku tiba ke Hostaria. Atas saran seseorang sahabat penggemar kuliner, aku dahulu memesan patina cotidiana nama lain lasagna tanpa tomat.

Formula aslinya memakai lagana, roti ceper yang dilapisi daging, ikan, serta keju. Tetapi persembahan tipe Magnanimi lebih simpel, dengan daging babi menggelek, adas, serta keju pecorino.

Buat membuat balik persembahan berumur 2. 000 tahun ini, Magnanimi mengawali dengan formula dari novel masak Romawi era ke- 1 Kristen, De Re Coquinaria.

Itu merupakan salah satunya novel formula yang sedang terdapat dari Roma kuno, yang berhubungan dengan Apicius, sang rakus banyak yang sempat diucap Gaius Plinius Secundus selaku” mubazir yang sangat rakus”.

Sebab formula kuno tidak muat rincian perinci, Magnanimi kemudian bertanya dengan arkeolog Italia populer, Eugenia Salza Prina Ricotti. Tujuannya buat membuat balik persembahan dengan berspekulasi jumlah materi yang cocok.

” Aku tidak dapat memasukkan tomat ke persembahan ini sebab tomat tidak tiba ke Italia hingga tahun 1500- an, kala Cortes membawanya dari Amerika,” ucap Magnanimi.

Patina cotidiana, yang berarti” persembahan setiap hari” dalam bahasa Latin, saat ini jadi karakteristik khas restorannya.

 Baca Juga : Makanan dan Minuman Tradisional Meksiko

Perasaan rasa awal yang aku miliki ini mendesak aku buat berupaya lebih banyak perasaan rasa Romawo kuno, salah satunya tiropatina nama lain puding yang dibumbui dengan lada, yang dipercayai orang Romawi selaku afrodisiak.

Menu terkini Magnanimi merupakan la cassata di Oplontis, yang inspirasinya berawal dari gambar bilik di suatu paviliun dekat Pompeii. Kue banyak rasa ini terbuat dengan aci almond, keju ricotta, gula- gula buah, serta madu. Kue ini senantiasa terjual habis tiap malam.

” Aku membuat keju dengan ulekan, benar semacam formula dari Virgil, dari era ke- 1 Kristen,” tutur Magnanimi.

Yang diucap Magnanimi merupakan moretum ataupun olesan keju yang termotivasi oleh syair Virgil mengenai seseorang orang tani yang membuat makan siang simpel dengan metode menggiling ketumbar, bulir seledri, bawang putih, serta pecorino.

Keju ini dapat dibalurkan di atas libum ataupun roti bulat yang diagungkan oleh orang Romawi.

Aku sempat memandang libum berkarbonisasi gelap di Museum Pompeii. Seseorang pembimbing berikan ketahui aku kalau remah- remahnya diletakkan di atas mazbah selaku persembahan pada dewa- dewa dalam prosesi saat sebelum timbulnya ibadat adat- istiadat Kristiani.

Magnanimi membuat libumnya dalam lilitan yang enteng serta mengisinya dengan keju ricotta dari peternakan biri- biri dekat restorannya.

Magnanimi kangen berhubungan dengan klien dampak karantina area dikala endemi Covid- 19 menyerang Italia.

Dengan seluruh durasi luangnya, ia sering bepergian di dekat Appian Way, di mana jalur selangkah yang rimbun serta rute sepeda berperan selaku tempat pelarian masyarakat Italia sepanjang penutupan area sangat kencang di Eropa.

” Aku menghabiskan pagi yang jauh dengan mengangon. Pada hari yang lain aku memandang sedemikian itu banyak orang Roma tiba ke mari buat berlari sebab mereka tidak dapat berangkat ke gym.

” Serta pada akhir minggu, terdapat keluarga yang berekreasi di dekat saluran air, bisa jadi mereka tiba ke mari buat awal kali. Aku ketahui pada momen itu kita seluruh lebih menghormati tempat kita bermukim, ialah Kota Roma,” ucapnya.

” Magnanimi merupakan bagian berarti dari tempat ini. Ia buatnya senantiasa hidup,” tutur Simone Quilici, ketua Halaman Arkeologi Appia Antica.

Quilici meneruskan tujuan yang diawali pada dini era ke- 19 kala buah pikiran buat melestarikan area ini mulai bertumbuh. Dikala seperti itu arkeolog sekalian arsitek Luigi Canina menyudahi buat menanam pinus di sejauh Appian Way.

Sayangnya, konsep revitalisasi halaman itu tidak sempat terkabul. Pada era ke- 20, dengan kemudian rute yang tidak teratasi serta Perang Bumi, terdapat Appian Way yang bernilai ini luang rawan dihancurkan.

Wilayah itu pada masa berikutnya jadi dirusak serta penuh dengan kegiatan pidana. Kesimpulannya pada tahun 1988, beberapa besar berkah keluhan puluhan tahun, wilayah itu dengan cara sah diresmikan selaku halaman kota.

” Aku ingat tiba ke mari selaku seseorang wanita kecil,” tutur Eleonora Fanelli, seseorang arkeolog sekalian pembimbing darmawisata Roma.

” Aku tidak yakin ini terdapat di kota aku, tempat di luar negara dongeng di mana aku dapat memikirkan seseorang pangeran mengendarai jaran berlari cepat di jalur selangkah.”

Saat ini, Fanelli sering bawa wisatawan ke halaman ini.” Apalagi bila hujan, mereka mau pergi serta berjalan di jalur, tiba batu yang mempunyai sisa cakra sepur, dari tahun 312 SM!”

Ia senang menggambarkan cerita pemeriksaan Romawi, Appius Claudius Caecus, yang nyaris membuat ambruk kekayaan Romawi buat membuat jalur ini.

Walaupun Appius jadi tunanetra, ia sedang menjaga pengawasan mutu dengan berjalan tanpa dasar kaki di jalur. Tujuannya membenarkan batu- batu itu diletakkan dengan lembut.

Appian Way kesimpulannya diperpanjang 563 km selatan ke Brindisi di tepi laut Adriatik serta ialah kunci membesarnya Imperium Romawi.

Magnanimi sudah bermukim di halaman itu sepanjang 2 dasawarsa serta amat menyanjung kepemimpinan Quilici.

” Semenjak ia mulai pada tahun 2017, ia membuat halaman itu jauh lebih bagus buat orang Roma serta wisatawan. Keadaan terkini sudah dibuka, semacam kolam renang air panas era ke- 2 di Capo di Bove, di mana ada mosaik serta halaman yang bagus.”

Terdapat pula Aplikasi ItinerAppia terkini, di mana wisatawan bisa memindai isyarat QR.

” Aku merasa amat asian bermukim di mari serta menyongsong para turis buat merasakan Roma, La Grande Bellezza, dengan cara jelas!,” tutur Magnanimi.

” Di mari mereka bisa berjalan mundur ribuan tahun di atas batu- batu ini serta ketahui alangkah lezat rasanya.”

Share and Enjoy !

Shares